Selasa, 12 Maret 2013

puisi untuk nenek


Malam baru saja menjelma pagi
Di luar sana masih terdengar
burung-burung jalang memangggil-manggil
dalam kamar di sebuah rumah usang
tubuh tua ringkih merintih
Allah...
Allah...
Allah...
Astaghfirullahal ‘adzim...
Astaghfirullahal ‘adzim...
Astaghfirullahal ‘adzim...
nama Tuhan dan pengampunanNya
selalu terdengar dari mulutnya
di atas ranjang berkasur isi buah randu
ia habiskan sisa waktu
ranjang, dulu hanya tempat tidur baginya
ranjang, kini meja makan baginya
ranjang, kini juga jamban baginya
dari atas ranjang seadanya
ia berharap
mentari terbit dari kolongnya


Jember, 04062011

merindukan ibrahim


aku merindukannya, pasti
seorang amir pemberani yang siap mati
menghancurkan batu-batu yang diberhalakan, yang tak memberi arti
datanglah ke negeri kami
negeri yang pemimpinnya t’lah kehilangan jatidiri
membiarkan segalanya diberhalakan, uang dan kursi
menjadikan hidup rakyatnya tidak pasti

aku merindukannya, tanpa syak lagi
seorang amir yang tak pernah menghitung untung dan rugi
mengorbankan anaknya demi mengikuti suara kebenaran maha tinggi
datanglah ke negeri kami
negeri yang hukumnya sudah atas dasar nepotisme; tak adil lagi
mengapartemenkan pembajak kelas pari
sementara yang kelas teri, dibui hingga ber-ragi

oh… Robbul Alamin, hadirkan ia ke negeri kami
atau cukup Kau Ibrahim-kan pemimpin kami


Jember, 09 Dzulhijjah 1432 H./ 05 November 2011

mencari Tuhan yang hilang


Tuhan,
sembunyi dimana Kau kini
mungkinkah Kau kabur dari negeri ini
Kau t’lah kehilangan eksistensi
dariMu tak pernah didengar semua petuah
iblis-iblis di negeri ini semakin berulah
suap dan korup menjadi lumrah
si miskin terus terjajah; hanya bisa pasrah
alam tak lagi gemah ripah
meladeni birahi manusia-manusia serakah
oh Tuhan, kembalilah, kembalilah

kucari ke rumahMu
namun tak kujumpai diriMu
kucari Kau di masjid
hanya kaligrafi di dinding yang kutemui
kucari Kau di gereja
hanya salib di atas altar yang kutemui
kucari Kau di wihara,
kucari Kau di pura,
hanya arca karya seni yang kutemui
Tuhan, pulanglah…..


Jember, 19102011

anjing dan tulang curian


aku menyaksikan anjing dengan capil pandan
memayungi wajahnya yang kearaban
ia anjing dermawan
membagi-bagikan tulang hasil curian
kepada para kawan
ia ketahuan; ia lari ke negeri seberang mencari aman
kini di balik layar kaca
ia menggonggong dari persembunyian
mengungkap para kawan penerima tulang curian
lekas pulang, anjing baik
sudah cukup para bangsawan dan negarawan
kau buat panik


Jember, 22072011
*) terima kasih kepada M. Nazaruddin

anak-anak yang ditirikan


Lihatlah  berita-berita di televisi itu
Bacalah tulisan di semua koran dan majalah itu
Dengarlah omongan-omongan di radio itu
Tentang mereka yang dibodohkan; dimiskinkan
Tentang anak-anak yang sengaja ditirikan
Oleh ibunya yang kerjanya memanjakan pantat di kursi pemerintahan

Lihatlah  berita-berita di televisi itu
Bacalah tulisan di semua koran dan majalah itu
Dengarlah omongan-omongan di radio itu
Tentang mereka yang hidup dalam konflik yang mengerikan; mematikan
Tentang  anak-anak yang sengaja diasingkan
Di dalam rumahnya sendiri yang bernama INDONESIA

Ironis
Lalu, durhakakah mereka bila enggan mengakui ibunya?
Dan pemberontakkah mereka bila ingin kabur dari rumahnya?


Jember, 31102011
*untuk saudara-saudara di ujung timur